Toko Buku di Jalan Wilis, Nasibmu Kini…

14
211
Wisata Buku di Malang (dok.pri)

Day 3, ODOP ISB

Ada pepatah bijak, buku adalah jendela dunia. Beragam informasi tentang apa saja, bisa kita dapatkan dengan membaca buku. Tidak hanya informasi dari sekitar kita, tapi juga berasal dari belahan dunia manapun.

Lewat lembaran demi lembaran terkait ilmu dan pengetahuan juga bisa kita serap. Kapanpun bisa membaca buku tergantung dari kesempatan dan waktu. Bisa di rumah, perpustakaan, kampus atau di toko buku. Berbagai info antara lain tentang politik, sosial, budaya, wisata, kuliner dan lainnya bisa kita lahap.

Wisata Buku di Malang (dok.pri)

Tapi belakangan ini menurut saya, sudah banyak orang beralih dari aktivitas membaca buku secara fisik. Mereka lebih care  terutama kaum milenial dengan membaca e-book. Tampaknya pergeseran ini juga efek dari berkembangnya dunia digital dewasa ini. Sehingga menyebabkan semua informasi tak lagi dituangkan dalam bentuk buku fisik. Meski tak dipungkiri, sampai sekarang masih banyak penerbit yang mencetak berbagai macam buku.

Wisata Buku di Jalan Wilis Malang

Toko Buku beberapa tahun lalu di Malang masih ramai dikunjungi. Bahkan Pemkot Malang membuka suatu kawasan menjadi  wisata buku di Jalan Wilis Malang. Namun kini tak  seramai dulu. Menurut salah seorang owner, toko buku atau kios buku miliknya kalau hari-hari biasa, transaksi penjualan relatif, kadang ramai kadang sebaliknya. Yang ramai sekali hanya saat pergantian ajaran baru.

Menempati toko buku no 25, Pak Andri yang sudah lama menekuni jual beli buku ini tampaknya optimis dengan bisnisnya. Walaupun banyak diantara rekan-rekan seprofesinya menyambi jual buku secara online, dia tetap bertahan secara konvensional.

Salah satu toko buku di Jalan Wilis (dok.pri)

Buku yang dijual Pak Andri bermacam ragam. Ada buku baru, buku lama atau seken bahkan buku-buku pelajaran untuk usia PAUD hingga perguruan tinggi. Dari novel pengarang Indonesia hingga pengarang mancanegara. Komplit. Tentang omset, menurutnya, kalau lagi rame bisa jutaan. “Sekarang susah gak seramai dulu,” kilahnya.

Toko Buku Wilis, Surga Buku

Menyusuri deretan toko buku ini, seperti kita berjalan di perpustakaan panjang. Terlihat susunan buku yang tertata rapi. Beberapa pengunjung datang ke lokasi wisata buku ini ada yang sekedar jalan-jalan sambil membuka-buka buku. Meski hanya melihat tanpa membeli, penjual tetap bersikap ramah.

Berderet toko buku yang tampak sepi (dok.pri)

Wisata buku yang berlokasi di jalan Wilis ini adalah pindahan dari Jl Majapahit. Dulu kira-kira 20 tahun lalu penjual buku direlokasi ke tempat baru agar lebih rapi dan tertib. Menempati 68 unit toko berukuran antara 2×3 para penjual buku ini merasa lebih nyaman.

Tentang harga, relatif bisa tawar menawar. Itu tergantung apakah buku baru atau buku lama. Kalau buku pelajaran harga standar tapi lebih terjangkau daripada di toko buku diluaran. Pendek kata, mengunjungi wisata buku ini selain bisa memenuhi keinginan mendapatkan buku, juga bisa jadi ajang pelampiasan melihat-lihat buku secara gratis. Ibaratnya, lihat buku 10 beli hanya 2 buah buku. Bisa seperti surga buku ya, semua tersedia. Hehe…

Menumbuhkan Minat Baca

Seperti yang sudah saya tulis diawal, wisata buku (toko buku) di jalan Wilis, pengunjungnya tidak sebanyak dulu. Penyebabnya, entah karena daya beli menurun atau karena membaca buku via e-book. Atau bisa juga daya tarik untuk membaca mengalami penurun pada generasi milenial. Prihatin pastinya.

Pengunjung toko buku yang bisa dihitung dengan jari (dok.pri)

Untuk mengatasi hal tersebut bisa dengan mensosialisasikan aktivitas membaca pada usia sekolah, terutama kaum milenial. Termasuk kegiatan literasi yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. Kemudian mengkampayekan secara terus menerus untuk gemar membaca buku perlu digaungkan.

Dengan gerakan cinta membaca, bukan tidak mungkin bisa meramaikan dunia membaca buku. Dan pada akhirnya menjadi pemantik untuk lebih banyak memotivasi penulis muda untuk menerbitkan buku yang berkualitas. Dengan demikian dunia litetasi yang erat dengan buku bisa membuat toko buku jadi ramai kembali. Insha Allah…Aamiin…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14 KOMENTAR

  1. Aamiin yra..Jl..Wilis yg merupakan surga buku, saya bebetapa kali kesana menemani anak yg lg luliah di UB. Harga miring & lumayan lengkap, klo yg dica5i ga ada baru hunting ke jl. kwitang jakarta.
    Sedih juga klo mulai sepi..Semoga ramai lagi ya seperti yg lalu.

  2. Wah bagus masih ada wisata buku seperti di Jalan Wilis ini. Paling tidak jika ada yang memerlukan beli masih ada yang dituju mesti kemana beli bukunya..Karena kadang rasanya beda lho, pilah pilih buku, pegang dulu baru ambil satu atau dua dna bayar harganya.
    Ada sensasi yang berbeda daripada beli online

  3. Aamiin ya robbal alamin…aku juga lebih suka membaca buku yang ada fisiknya daripada e book mbak..n paling kalap mata ini kalau sudah lihat buku😁 alhamdulillah di Surabaya juga ada tempat seperti ini

  4. Oo namanya Jalan Wilis toh mbak. Tahunya dulu waktu sekolah, namanya Blok M. Sepertinya kurang promo saja mungkin, ya mbak.
    Ihh koq jadi pingin ke sana, Mbak Erny.

  5. Meski banyak yang beralih ebook, tapi sampe sekarang aku masih suka buku fisik mbak hehe. Lebih lega aja, bisa di oret2, bisa dikasih post it buat tanda. Hmm, jika pengunjung toko buku jalan Wilis gak sebanyak dulu, persis seperti kampung Ilmu jalan Semarang Surabaya. Makin sepi dari ke hari. Semoga minat baca makin bertumbuh dan kolaborasi antara menjual online dan konvensional. Sehingga penjual buku akan tetap memperoleh rezeki 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here