Jajanan Jadul Menggoda Hati Di Kampung Budaya Polowijen Malang

45
48

Minggu pagi cerah.  Tak biasanya anak-anak sudah bersiap jalan pagi.  Mumpung libur,  kata mereka.  Memang mau kemana nak?  Ehh.. .Ternyata emaknya pernah berjanji,  hari Minggu bakal ngajak jalan ke pasar tradisional Minggu Legi.  What?  Apa pula tuh Pasar Minggu Legi?  Buat orang Jawa yang sedikit tahu (kayak saya nih,  meski berdarah Jawa tapi lebih banyak hidup di Makasar) mungkin bingung.  Tapi bagi Jawa tulen pasti paham tentang hari pasaran Jawa. Next time saya tulis yaaa…

Di Kampung Budaya Polowijen (dok.pri)

Lanjut tentang jalan-jalan pagi, nih dua anakku sudah siap grak.  Jadi emaknya mau gak mau bayar utang janji.  Jadilah pagi itu bertiga meluncur ke suatu pasar tradisional yang berlokasi di Jalan Cakalang Malang.

Bernostalgia ke Kampung Budaya Polowijen (KBP)

Berbekal sebuah info di WAG tentang Pasar Tradisional Minggu Legi, teryata dikemas di Kampung Budaya Polowijen. Kampung ini merupakan bagian dari kampung tematik yang diresmikan tahun 2017 oleh Walikota Malang saat itu, yakni Ir. H. Muhammad Anton.

Tak sulit untuk menemukan lokasinya, karena ada papan petunjuk menuju lokasi KBP.  Mulanya masuk Jalan Cakalang kurang lebih 300 meter menuju KBP yang masuk RT 03 RW 02 Kelurahan Polowijen,  Kecamatan Blimbing. Jalan masuk menuju lokasi tak terlalu lebar tapi cukup untuk dua mobil bersimpangan.

Begitu tiba di lokasi KBP akan disambut tulisan selamat datang dengan umbul-umbul berdera berjajar rapi. Terlihat view sawah yang baru saja siap tanam.  Jadi tidak nampak tanaman padi yang menghijau.  Hehe…

Melewati jalan setapak selebar 2 meter  kami menuju kerumunan warga yang berpakaian tradisional Jawa jaman dulu.  Lengkap dengan topi petani sebagai penunjang suasana jadul. Di depan pintu masuk seorang perempuan mendekati kami seraya menawarkan penukaran uang resmi dengan kotak kayu kecil bernominal.

Warga berpakaian tradisional (dok.pri)

“Monggo bu ditukar dulu uangnya”, sapanya ramah. Ditangannya ada semacam wadah yang didalamnya terdapat potongan kayu kotak sebagai pengganti transaksi di pasar ini. Saya pun segera menukarkan dan berpindahlah 6 kotak kayu bertulis angka 5000.

Pagi menunjuk pukul 08.30, belum terik ya?  Tapi ada sesuatu yang berbunyi di perut.  Hihi rupanya saya ingin sarapan.  Bergegaslah ke deretan penjual makanan. Wahhh melihat semua, rasanya saya ingin memborongnya.  Hmmm..
Menu jajanan jadul membuat saya sedikit kalap. Hehe.

Jajanan Jadul Menggugah Selera

Beberapa stand jajanan dan peganan jadul ada di pasar tradisional ini.  Rupanya sudah banyak yang habis. Cuma ada beberapa yang masih ada. Aduhh ternyata saya terlambat datang. Padahal acara lounching Pasar Tradisional Minggu Legi baru dimulai pukul 09.00 menurut salah seorang warga.

Benarlah saat saya menyusuri pasar tak lama ada rombongan dari DPRD Kota Malang hadir. Sayup terdengar bahwa KBP ini ada karena usaha dari Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis). Pokdarwis-lah yang mengusulkan kampungnya bertema budaya. Ada juga kegiatan tarian warga sekitar,  pembuatan patung, seni macapat , membatik dll..

Kesenian Tarian Tradisional (dok.pri)

Nah yang membuat saya tertarik datang adalah karena ada pasar tradisionsl Minggu Legi.  Secara saya suka dengan kulineran jadul yang menggugah selera untuk menikmati penganan waktu saya kecil dulu. Apa saja yang temui dan yang pasti saya beli?

1. Lupis

Jajanan ini sangat familiar buat saya. Ada beberapa macam yang masuk dalam jajanan lupis. Diantaranya cenil dari tepung kanji biasanya berwarna pink,  lupis dari ketan berbentuk seperti irisan lontong. Diberi parutan kelapa dan gula merah cair kental.  Rasanya tentu saja gurih  dan manis.Lupis banyak digemari segala usia.

Lupis (dok. pri) 

Anak bungsuku memesan lupis yang disajikan dengan cara dipincuk menggunakan daun pisang. Satu porsinya 5000. Harga yang sesuai dengan olahannya yang beragam

2. Kucur
Kue ini berbentuk bulat terbuat dari tepung beras.  Rasanya manis dan sedikit berminyak.  Biasanya berwarna coklat karena menggunakan gula jawa. Ada juga yang hijau karena pewarna dengan gula pasir. Ini juga saya suka hargapun murah cuma 2000. Duh betul-betul kalap ya lihat harga murmer gitu… Hehe…

Kucur (dok. pri) 

3. Sawut

Ini terbuat dari singkong yang diparut agak kasar. Kemudian dikukus dan diberi campuran guka merah. Disajikam dengan parutan kelapa.  Hmmm ini juga saya suka.  Harganya satu bungbungmurah sekali hanya 2000 saja.

Sawut (dok.pri)

4. Semar Mendhem

Nama jajan jadulnya seperti nama Punakawan ya. Entah kenapa kok dinamakan Semar Mendhem. Mendhem dalam bahasa Jawa berarti mabuk.  Apa karena rasa jajan itu enak sehingga dinamakan demikian? Saya tidak ngeh… Hehe…

Semar mendhem (dok.pri)

Penasaran gak seperti apa penampakannya?  Ternyata rasanya hampir mirip lemper.  Bedanya ketan yang diisi irisan ayam berbumbu kalau lemper dibungkus daun pisang. Sedangkan Semar Mendhem dibungkus kulit dari tepung beras seperti kulit dadar gulung. Kulitnya berwarna putih. Saat disajikan biar lebih terlihat manis,  diberi hiasan seperti ikat pinggang dari daun. Harga per biji 2500 rrupiah…

5. Es Dawet Tepung Beras

Sudah tahu kan es dawet?  Sama seperti di luaran
Tapi yang ini berbahan tepung beras dan penyajiannya di mangkok gerabah. Jadi kayak jaman dulu gitu. Satu porsinya dibandrol 5000. Rasanya manis dan gurih karena ada santan dan gula.

Dawet Tradisional (dok.pri)

6. Lontong Sayur

Nah ini yang membuat saya tak bisa menahan lapar.  Saya langsung pesan karena melihat menu ini nikmat sekali. Jadi berbahan lontong dengan sayur tempe bercampur kentang dengan irisan daging sebagai kaldu.  Bertambah nikmat dengan sambal kelapa bagi yang suka pedas. Wahhh saya segera melahapnya tanpa menunggu waktu.  Harganya satu porsi 5000.

Lontong Sayur (dok.pri)

Demikian menu jajanan di pasar tradisional yang sempat membuat saya kalap.  Beruntung datangnya kesiangan, jadi tak sempat membeli yang lainnya.  Tapi saya masih penasaran sama jajanan jadul lainnya.  Insha Allah minggu depan kalau tak ada aral, ingin berkunjung lagi. Melihat lebih dekat kegiatan positif warga di Kampung Budaya Polowijen.

Sayangnya di area KBP ini belum ada tempat parkirnya.  Pengunjung yang membawa roda dua, masih bisa parkir di pinggiran jalan. Tapi kalau membawa roda empat, parkirnya agak jauh dan bukan di area sebagaimana tempat parkir. Jadi PR nih buat pengelola  KBP, untuk memikirkan hal itu.

Dan bagi kalian yang penasaran dengan penganan jadul,  sila datang ke KBP setiap minggu.  Pasti akan merasakan aura jaman dulu–sebagai penawar rindu masa lalu…

#ODOP
#Estrilook Community
#day5

45 KOMENTAR

  1. Satu lagi referensi, hehe. Yang museum Brawijaya aja belum πŸ˜€
    Jajannya wenak-wenak ini, Mbak. Tapi favorit saya itu yang dawet tepung beras. Seneng itu dari dulu.
    Trus ini tutupnya jam berapa yak?

  2. Malah ikutan laper pas liat Semar mendhemnya euy. Mirip lemper ya, Jadi penasaran pengen ikut kesini jadinya. πŸ˜€
    Nanti bila ke Malang lagi boleh juga nah jadi alternatif. Kira-kira ada jadwalnya kah Mbak?

  3. Aku teergodaaa
    Sepertinya Pokdarwis ini jadi penggerak wisata di masing-masing daerahnya ya sekarang. Kemarin waktu pulkam di Kediri juga ada pasar budaya seperti ini. Sayang enggak sempat ke sana aku.
    Tapi kalau ada Kampung Budaya Polowijen di banyak tempat tentu akan membantu pertumbuhan ekonomi daerah terutama dari sisi wisata.
    Dan aku jadi lapar lihat lupis, cucur, sawut dan kawan-kawannya

    • Ya mb di Malang Pokdarwis sdh dibentuk 2 thn lalu dan jadi pemantik warga untuk smngat membuat kampung tematik. Kebetulan saya yg nulis buku Kmpung tematik MBA. Jelas secara otomatis membantu ekonomi warga sekitarnya… Hihi laparrr juga… Haha

  4. Oalah kirain saya ini pasar tradisional yang kemaren masuk TV mak. Sama soalnya nuker uang dulu pake uang kayu. Makanan yang familiar buat saya lupis, lontong sama es dawet, selebihnya saya kurang tau. By the way Malang bener-bener menyimpan sejuta pesona. Kota yang wajib aku kunjungi nih

  5. Mbaaak, jajanannya murah-murah bangeeet. Ya Allah, itu jajanan favorit. Kalau kesana bisa-bisa aku borong, euyyy. Di Bogor sini, ada satu outlet makanan khas Bogor yang juga menjual semar mendhem. Mereka membuat dalam bentuk rol panjang gitu. Harganya lumayan mahal dan itu laris banget. Semoga jajanan tradisional Indonesia tetap lestari, ya. Agar anak cucu (langsung bayangin punya mantu) masih bisa menikmatinya.

  6. semar mendhem!!!! Ya Allah kangen banget sama makanan ini. Dulu ibu sering buat waktu aku SD, terus aku jualin di sekolah, laris, wkwk. Sekarang ibu udah jarang buat, emang butuh waktu sih buatnya juga, jadi kangeen ~

  7. Aku suka semua jajanannya mba. Di Bogor juga ada Kampung Budaya tapi belum pernah mampir ke sana. Liat tulisan mba Erny tentang KBP membuat saya jadi penasaran. Btw, semoga pengelolaan KBP makin baik ke depannya ya mba 😊

  8. Saya tinggal di Pasuruan, dekat Malang. Tapi sayangnya belum pernah ke daerah ini. Unik ya..uangnya ditukar dg balokan. Mungkin lebih praktis yak. Kesannya juga lebih seru, pakai sitem barter gitu jadinya. Ah jadi pengen nyemil klantingnya lupis. Besok beli ah

  9. Selalu aku suka melihat desa-desa kreatif melibatkan warga setempat untuk jadi tujuan wisata seperti Kampung Polowijen ini.
    Makanan traditional ikut dipopulerkan kembali …, itu suatu gerakan patut diacungi jempol.

  10. Aku kangen tahu telor, cuimie dan tahu campur bikin kangen bangeeeeeet, dan pasar ini baru aku tau banget mba. Padahal ak kuliah d Polinema kan deket sama Blimbing hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here